Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2009

Sajak-Sajak Muhajir Arifin

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
BISIKAN NAMA
:Siti Masfufah

kupunguti sajak-sajak ini
dari puing-puing berantakan
di pantai-pantai,
beberapa larik lagi
kuminta dari angin
dan debur kecil.
saat kujumpai sepi,
ia mengelak memberi
beberapa cabik lagi.—
biar kubujuk ia,
dan nanti
kutaburkan di kertas-kertas putih.



(bagian satu)
(1)
kami berpapasan
di percik-percik ombak utara—
saat bulir-bulir mengukiri
lengan dan paha,
saat cahaya-cahaya
mewarnai akar-akar kelapa.

(2)
o… gadis
yang dipahat oleh tangan bersih sang pagi,
jernih air sungai-kali yang bernaung
di keperkasaan bebukitan mengaliri diri.
ia mewarisi cahaya hera,
kecantikan isytar-syiria,
pesona perempuan troya, sekaligus
kelembutan gadis jawa.
kadang, ia menjadi drupadi.
bukan, perawan aisah… ah,

(3)
dagunya, hanya milik pemuja.
hamba binasa tak akan sanggup
menyulam makna.
dagu itu, melukis indah bibirnya
tak berbantah.

(4)
di bawah senyum rembulan
dan restu lautan, kusunting jiwanya,
dengan mahar setangkai sederhana
yang aku tanam dan petik
dari taman kesenyapa…

Sajak-Sajak Johan Khoirul Zaman

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Manik-manik Do’a Pernikahan

Pernikahan langait, itulah munajatku disela sunyi
saat perempuan menggunting lajangku,
ia akan ku ajak menganyam hujan
walau gemuruh berhamburan

tiba juga jiwa di dermaga sukma
pesta cinta memang tak bersuara

ingin kutitipkan ilmu disetiap garis bibir istriku
agar kehormatan dijaga para pembela

pastilah ku taburkan doa disetiap helai rambutnya
agar cahaya kesetiaan memayungi jiwanya
ku tancapkan janji dalam hati

oh….penghuni hati
engkaulah percikan illahi
yang menyempurnakan Asmaul Husna dengan kemesraan
lalu kita bermain ditaman dengan segala permohonan cinta
yang melahirkan keselamatan.

Ya…maha cinta,
himpun daku dari yang terserak
berikan insan-MU yang berhias akhlak.

Bandung 25-12-08



Cinta yang Berdo’a

Jiwa yang bersemayam dalam selimut cinta
telah mengabarkan padaku tentang hangatnya kasih dikedalaman jiwa
yang berwsembunyi dalam dusta

lalu diam-diam terdengar sakitnya kenikmatan
layaknya hati berduri yang menancapi segala mimpi
semau ka…

Sajak-Sajak Mujtahidin Billah

http://www.facebook.com/group.php?gid=91739295309
CINTA DAN KEINGINAN

Jika cinta itu bukan garis dari wilayah terlarang maka izinkanlah aku untuk menempuhnya meski sendiri terlalu muda usiaku tuk berbicara tentang cinta.

Tapai mengapa aku berani ?

Karana setiap manusia pasti merasakan mencintai dan di cintai oleh siapapun orangnya baik seorang gusti ataupun sahaya, manusia mempunyai jawaban tersendiri tentang cinta dan itupun tergantung pada ketulusan rasa fikiran dan imajinasi kita menangkapnya walau hanya sepotong kata menjawabnya biarlah waktu nati yang akan menjawab karna waktu lebih jujur dari pada kita,sampai sekarang cinta masih menjadi sebuah legenda dan tanda tanya bagi kita. Setiap kata dapat merasakan kehaduranya walau lidah kita keluh gagu tetapi kita tetap ingin merasakanya,sebuah perasaan memang tidak bisa di kengkang dan selamanya tempahan itu akan mendapatkan wadah kadang terhalang oleh tirai setatus dan kadangkala kita akan pemahaman tentang cinta,hinga gejolak itu hanya …

Sajak-Sajak Hasan Aspahani

http://kompas-cetak/
Surat-Elektronika untuk Shania Saphana

AKU ketikkan namaku lalu namamu,
sepasang ID dan kata sandi yang kita sepakati itu, dengan begitu
kupertahankan harapan bagi datangnya sebuah surat-elektronika.
“Aku pasti kabarkan apa saja dari sana, nanti, potret patung pujangga
yang kau sanjung, restoran bermenu unik, dan ya, tentu potretku juga,
dengan seragam putih panjang, dan kerudung pelindung dari debu gurun,
juga senyum yang kau bilang membuat wajahku seribu kali lebih cantik,
dan karena keindahan itu jadwal musim terik menjadi terbalik-balik!”

TAPI, seperti tengah malam sebelumnya, di inboks itu tak ada apa-apa.
Aku kirimkan lagi pertanyaan yang sama,
ke alamat surat-elektronika yang kita sepakati itu,
semacam doa yang terlalu sederhana, “Kau tidak apa-apa, ya?”
Ah, betapa ingin aku ke sana, ke lapangan bulutangkis,
terakhir kita saling menepak buluangsa, ketika kau kram otot betis.
Kubatalkan sebuah smes. Kugendong engkau dengan keringat menetes.
“Kita pernah satu regu di Palang M…

Sajak-Sajak Sunlie Thomas Alexander

http://cetak.kompas.com/
Belinyu

carilah pada dahiku yang kau lukai,
kerinduan para leluhur berbaju belacu
yang tak temukan jalan pulang
ke guci guci abu dan aroma gaharu
hingga bersilang bayangan, berbelit silsilah
pada batang batang pohon dan bebatu,
gubuk gubuk miring dan bagan di laut jemu
menjelma sebelah kaos kaki
usang dan bau
sebagai anak yatim yang terjebak
di palang pintu, aku mengadu
pada peruntungan mata dadu;
oh, kian berlumut batu batu!
kulihat mata arwah waktu
yang membara di tepi teluk kelabu,
sayu terbuai merdu dendang melayu
sampai berkali dilukai lagi
kenangan kanakku yang lugu
merah darah ibu kelewat pekat
menyusuri nadiku,
mengental di dahi (oh, di hati!)
serupa gelombang laut
yang mengantarkan sesajen basi
ke meja meja pemujaanmu
maka kaos kaki usang kukantong di saku
setelah sia sia lekatkan nama di guci abu
tapi kau terus mengintai warna mataku
dan menjarah doa keluh
di sepanjang ingatanku
hingga pada tiap ngungun kepulangan
mesti kubangun kerinduan yang tabu
di lengang jalanmu

Bangka-Yogyakart…

Sajak-Sajak Anton Kurniawan

http://www.lampungpost.com/
Pertanyaan Kepada Kawan

Serupa sepoi aku datang padamu
menjinjing bening hujan yang pernah gigilkan tubuh kita
dan dengan cara paling santun
kuantar aroma kenanga dan harum melati
juga kenangan sekian ruas simpang yang telah kita lunaskan

Sajak-Sajak Ira Puspitaningsih

http://www.padangekspres.co.id/
Seputar Pemilu Afghanistan

Aku tak ingin pergi
malam ini
Langit masih gelap
Suara bocah-bocah di luar
Cuma ringis menahan tangis
dan ketakutan

Sedang di halaman tepi jalan
Bunga-bunga flamboyan
Muncul di antara dedaunan
yang mengering
sebelum waktunya kering
Layu pada sisa-sisa asap, yang
masih terasa basah di pipi

Tak ada cahaya
di kelopak liarnya
atau putik-putik yang kusut
Hanya ada hitam
Yang membuatnya makin usang

“Ibu, aku mau sebutir permen hijau,
sebutir saja.
Sekadar menghilangkan sakit,
di telinga.”

Sebutir saja, kata gadis kecilku
Tapi tak ada satu pun di saku bajuku

“Aku tak ingin pergi
malam ini.
Udara sangat panas di luar,
sayangku.”

Lalu gadisku terisak dalam dongeng
yang diceritakannya sendiri

Pintu perlahan kubuka
Tanpa derit, tanpa jerit
Menatap cuaca yang hampa
tiba-tiba
Jalanan aspal ini sedikit basah
oleh darah tentu saja
Seorang lelaki mungil yang malang

Segera kuraih dan kusentuh
tubuh keruh
Jasad lusuh tanpa nyawa

Siapa orang tuanya?
(Yang mungkin bernasib sama)
Di mana ru…

Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono

http://cetak.kompas.com/
Sonet 5

Malam tak menegurmu, bergeser agak ke samping
ketika kau menuangkan air mendidih ke poci;
ada yang sudah entah sejak kapan tergantung di dinding
bergegas meluncur di pinggang gelas-waktu ini.
Dingin menggeser malam sedikit ke sudut ruangan;
kautahan getar tanganmu ketika menaruh tutup
poci itu, dan luput; ada yang ingin kaukibaskan.
Kenapa mesti kaukatakan aku tampak begitu gugup?
Udara bergoyang, pelahan saja, mengurai malam
yang melingkar, mengusir gerat-gerit dingin
yang tak hendak beku, berloncatan di lekuk-lekuk angka jam.
Malam tidak menegurku. Hanya bergeser. Sedikit angin.
Ada yang diam-diam ingin kauusap dari lenganmu
ketika terasa basah oleh tetes tik-tok itu.



Sonet 6

Sampai hari tidak berapi? Ya, sampai angin pagi
mengkristal lalu berhamburan dari sebatang pohon ranggas.
Sampai suara tak terdengar berdebum lagi?
Ya, tak begitu perlu lagi memejamkan mata, bergegas
memohon diselamatkan dari haru biru
yang meragi dalam sumsummu; tak pantas lagi
menggeser-geser sediki…

Sajak-Sajak Hang Kafrawi

http://www.riaupos.com/
pada subuh yang mengumpal

subuh mengumpal di hati
lubuklubuk sunyi aku daki
zikir bulan mengalir purnama
laut cahaya terbentang ke jiwa

wajahku telah menanti
aku sangsikan juga diri
mengaligali gelap hari
matahari melapuk mimpi

sujud yang kudedahkan darah
membangun kisah dari gelisah
sendiri aku ziarah rumah kalah
tak ingin aku menyerah

seperti air aku mengalir
ke cerukceruk nadir lahir
terus berlayar perahu zikir
tak juga sampai zahir

ini jiwa tak kan lelah
makam makam di dada merekah
sayapsayap jiwa menyerlah
terbang aku mengepal tanah

asal mula adalah aku
merajut segala waktu
dari rerumput berdebu
membujuk tasik nafsu

kini pada subuh yang mengumpal, aku bawa selaut rindu untuk menyerah padaMu. aku tak mampu menafsir gelap dengan kebutaan hati. pelayaran yang Kau bentang di gelombang insangku, menciptakan kehausan yang tak pernah reda. aku kekeringan di musim hujan, tanpa airMu. aku kegelapan di siang yang menyerang, tanpa cahayaMu. kini pada subuh yang mengumpal, aku menyerah kepadaM…

Sajak-Sajak Jimmy Maruli Alfian

http://www2.kompas.com/
Rumah Seorang Perempuan

perempuan yang baru memotong rambutnya
ingin berumah dalam sajak-sajakku
katanya ia sudah tak betah
oleh rambut panjang
dan ruang tunggu pelabuhan yang membuatnya gerah
maka kubiarkan saja ia membawa televisi,
kipas angin
dan matahari sendiri
tak lupa
ia menyempatkan membeli bibit palma
dan sebuah bel
yang akan memanggilnya ke halaman setiap senja
tapi ia terkejut
betapa gelapnya ruangan dalam kalimat-kalimatku:
tak ada tiang listrik
ataupun pijar lampu taman plastik
namun lihatlah,
sebuah kata menyala dalam kamar
merupa cahaya yang menarik tubuhnya menjauhi hingar bingar

2003



Pemain Sirkus Menonton Sirkus

beberapa rajahan jatuh dari tubuh
luput dari paruh yang belum sempat mengaduh
sedangkan engkau terlanjur serius menjadi burung
meninggalkan anak-anakmu yang terlambat
berpegangan pada kepak
aku tahu, kau tak pernah menyangka
di antara rombongan karnaval
ada maut yang selalu tertawa memakai baju badut
terlebih-lebih hari ini,
persis Januari pertama
di mana hujan akan m…

Sajak-Sajak Jun Noenggara

http://oase.kompas.com/
MATAHARI

Akhirnya kereta itupun pergi
Membawa matahari
Meninggalkan aku sendiri

Peson sepi. Stasiun sepi
Tiba-tiba kota ini menjadi kota mati
Para penghuninya menggali lubang dalam sekali
Menciptakan gap menganga jurang mengubur diri

Dan jalan-jalan lengang kulalui sendiri

Rumah sepi. Tak ada penghuni
Kemana engkau pergi?
Aku mencari-cari
Memecahkan sebuah misteri

Tengah malam kesepian semakin menjadi-jadi
Hujan turun sejak tadi
Kucoba membuat sebuah puisi
Tak pernah jadi

Ketika pagi-pagi aku pergi
Mencari matahari
Terasa cuma aku sendiri
Tak ada yang lain hadir di sini
Di hati

Begitu berhari-hari

Bila engkau kembali?
Betapa kuncup bunga mekar berseri
Betapa kicau burung riang bernyanyi
Dan betapa seharusnya engkau sadari
Bahwa kuncup bunga yang mekar berseri
Kicau burung yang riang bernyanyi
Adalah bisikan hati:
- Betapa sepi ketika engkau pergi
Aku rindu sekali
Rindu berbincang dari hati ke hati
Dari hari ke hari



burung-burung kecil

saat matahari terbit
burung-burung kecil berbondong-bondong
berc…

Sajak-Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim

http://www.suarakarya-online.com/
KEHIDUPAN PERANTAUAN

Detik-detik berlalu dengan kehampaan
kulangkahkan kaki dan perasaan tak tentu
apa yak akan kudapatkan?
apa yang akan aku lakukan?
dan apa yang aku dambakan dalam hidup ini?
tak seorang pun dapat menjawabnya,
juga diriku sendiri tak mengerti apa yang kucari,
keresahan dan kebahagiaan datang tanpa ujud,
singgah sejenak, kemudian berlalu tanpa kesan,
hanya detik-detik harap yang selalu bersemi,
dalam jiwa yang gersang dan resah ini,
tapi, ditengah segera nan gersang ini
kucoba ‘tuk mewujudkan segala angan,
yang selalu melekat dalam pikiran
segala doa dan usaha kulakukan,
demi tercapainya satu tujuan,
ditengah kehidupan perantauan.

Maret-2009



BELENGGU DIRI

Ombak beriak berkejar-kejar
tak juga usai selalu saja begitu
datang pergi
datang lalu pergi lagi
kucoba gapai riak gelombang
alunan deburan-deburan yang kudapat
keletihan pun belenggu diri
hilir gelombang hanyutkan sekerat tubuh
Dan hempaskan pada tebing karang
kuterkapar sesali diri

Maret-2009



RESAH

menuju ke kant…

Sajak-Sajak Matroni el-Moezany

http://www.sastra-indonesia.com/
Sela-Sela Yang Tak Kuciptakan Sendiri

Kurasa dalam bahasa kubaca setiap cela
Yang mendengarku

Di kedalaman dalam luas waktuku
Tak tertera dengan sederhana
Oleh setetes suara malam di sisa usiaku

Sehabis makan malam
Dengan ikan ayam di dada
Mencela roti bangsa
Yang tak sabar meninggalkan susah-susah

Aku tak menemukan angka di matahari
Tapi di ruang jiwaku aku lihat samudera tak terbatas mengalir
Ke dalam darahku

Ikan, kata dan kegembiraan
Mengisi sela-sela
Yang tak kuciptakan sendiri

Partikel-partikel bahasa
Yang kulihat nyata, ternyata
Lari menemui ruang tulangku
Seperti aku yang sedang lapar membutuhkan semesta

Selembar perjalanan kutulis di ufuk malam

Semesta ini seperti kertas kosong
Tempat menanam kata
Bersayap beribu rasa
Beranting kelembutan
Berdaun kesejukan
Berbuah kebahagiaan

Jogja, 2009



Berkata Pada Titik (.)

Kuingin berkata
Pada titik di tengah titik yang paling terkecil
Entah dengan apa?

Lalu kutawarkan
Rasa
Untuk sedikit mendekati cakrawala

Kubertanya
Kenapa menangis
Tak ada d…

Sajak-Sajak Arina Habaidillah

http://artstreet.multiply.com/
Aku ingin pergi (I)

bila kau tau aku saat ini
terkubur dalam ruang sempit
yang takkan membuatmu sanggup melejit

dalam buaian gelombang-gelombang amanah
apa tak kau kira berat!
hatiku hanya terselimuti emosi-emosi kejam
yang tak ubahnya sebagai apai yang menyala-nyala

aku ingin pergi!

Dalam sekujur tubuh yang itu adalah waktu
aku terikat
dengan dunia yang semakin gelap
hanya ternganga dan mencoba memberontak:
“ah sial!!”

tak ada sura merdu yang mendayu-dayu
merasuki sebuh ruang tak bernyawa
siapapun bia mati karenanya
hanya putih dan hitam.

aku ingin pergi!

dan tak kembali
walau malaikat mengejarkupun
aku akan lari!

lama, waktu memburu bagai pedang yang
akan menghunusku
aku mati.
mati dalam diriku sendiri

dan berteriaklah:
aku tak puas!

270309



Aku ingin pergi (II)

segala tenaga tercurah
hanya untuk penantian tak berguna
untuk apa?
kau bertanya,
aku tak mau menjawabnya :
terserah!

“apa kau mengerti sekarang?”
aku sudah bosan bertanya
hanya dalam lamunan
karna aku tau,
kau takkan bisa menjawabnya

a…

Sajak-Sajak Dian Hartati

http://www.lampungpost.com/
Sebab Kisah Telah Digariskan

jangan meratap
sebab kisah telah digariskan sang kuasa
tanah kenangan hanya menyimpan sejarah
lampau, adalah waktu di mana kau
berlarilari kecil
mengejar tukang es kuncang
duduk rapi di serambi
menonton randai puti amban
ingatkah, ketika tangismu melunjak
mata beningmu mengiringi langkah kukuh sang mamak
ia pergi tanpa bercerita
ia pergi tanpa memberi warta padamu
berbilang tahun
kau pun mengikuti kata hati
merantau, meninggalkan ibu yang seorang
mengalungkan rindu di leher jenjang
“upik, denai pergi ke seberang pulau
mencari jejak mamak
jaga bunda dan lepau di samping rumah”
pesanmu pada adik yang beranjak akil balig
jangan meratap
sebab kisah telah digariskan sang kuasa
alur hidup tengah dianyam runyam
kau, kini berjalan tak tentu arah
menggapai sesuatu yang tak tuntas
merutuki hidup yang tak jera
inikah negeri yang didatangi mamak
begitu ramai dan sesak
mengingatkan pada bapak yang tak pernah dijumpa
ya, tibatiba kau sadar
sejak kapan kepergian membawa kisa…

Sajak-Sajak M. Aan Mansyur

http://www.lampungpost.com/
Bulldozer

/1/
kelas enam
pertama kali berkelahi
teman sebangku
mempermalukan
ia kuak rahasia saya:
takut bulldozer
keluar! pindah!
kepala sekolah
(yang tak pernah ramah)
marah-marah
di rumah
saya bertanya
kenapa saya takut bulldozer?
waktu saya belum cukup setahun
sawah keluarga diratakan bulldozer
(bulldozer warna kuning, kata ayah)
ada orang-orang kaya dari jakarta
suka sekali beli tanah murah
buat membuat rumah,
rumah-rumah mewah
bulldozer mau melindas ayah
yang tak mau dibayar murah
tapi akhirnya dia kalah
lalu mengalah
pasrah
terpaksa

/2/
di sekolah menengah
saya diminta ayah
masuk jurusan ilmu alam
biar bisa kuliah di fakultas teknik
biar bisa membuat bulldozer
yang lebih perkasa
yang lebih raksasa
ujian masuk universitas
saya gagal jadi mahasiswa teknik
dan terdampar di sastra indonesia
saya pernah bilang pada ayah
kata-kata lebih kuat dari bulldozer
(mengutip kalimat dosen puisi saya)
dia tertawa keras-keras
(dulu parang saya tak bisa apa-apa, katanya,
bagaimana kau bisa pakai kata-kata buat b…

Sajak-Sajak Susi Susanti

http://www.riaupos.com/
Nelayan dan Malam
:kampungku

…………
ketika malam serupa muram di wajahmu
maaf, aku hanya bisa melukis pelangi sebagai tanda tanya
akankah doa menemukan warna-Nya?
…………

perlahan subuh mengucapkan salam
pada nelayan, jaring, juga sampan kayu
yang bermuatan peluh, keluh, lenguh
impi yang rapuh

pelayaran bermula
walau ini bukan awal dari keheningan kampung yang diam
bertahun menjejak tapak di atas kabut

ya, anggap saja ini ketidaktahuanku
akan seorang pendongeng yang duduk menatap malam
menatap jati yang terbuang
gigil air matanya di atas sungai dan dayung-dayung rapuh
tapi sudahlah, mungkin kampungku kini tetap saja seperti selat mati di pinggiran pulau ini*)

hari ini luka masih menemaniku
bersama musim hujan yang enggan pergi
gemericik suaranya seperti ingin bercerita
tentang nelayan di ujung malam
mendayung kepedihannya sendiri
dalam air mata yang tak pernah usai
adakah derainya yang sampai ke telinga?

“dia hanya bisa menulis puisi dengan kalimat basi,” katamu
aku tertunduk malu
(maaf, di pui…

Sajak-Sajak Mujtahidin Billah

http://embun-tajali.blogspot.com/
MUWAJJAHA (Melihat Wajah Allah)

waktu aku baru duduk dalam pengajian,
diajarkan sang guru
bahawa Allah tak bisa dilihat dengan mata kepala,
dan sesungguhnya itu memang tak mungkin terjadi.
maka aku pun terbaca di dalam Qur’an,

Musa juga ingin melihat Allah
betapa pun Musa seorang Rasul
yang bisa berkata-kata langsung dengan Allah,
itu pun tak mungkin terjadi andai Musa ingin melihat Allah
dengan mata kepalanya sendiri,

Allah berfirman tataplah gunung Thursina itu,
jika gunung itu bisa menampung CahayaKu
maka kau dapat melihat WajahKu
namun gunung itu pun hancur lebur
tak bisa menahan CahayaNya.

namun ajaibnya sabda Nabi s.a.w.,
kalian bisa lihat Allah dalam syurga
justeru para sahabat tertanya-tanya,
bagaimana ya Rasulullah
kami bisa melihat Allah dalam syurga?
lantas kata Nabi, seperti kalian melihat bulan purnama
apakah menyakitkan pandangan matamu?
dijawab para sahabat, tidak wahai Rasulullah!

dan aku pun jadi bertanya,
heran, kita bisa lihat Allah dalam syurga?
mengapa di s…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com