Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2009

Sajak-Sajak Afrizal Malna

http://www2.kompas.com/
Kamar yang Terbuat dari Laut

Masa kanak-kanakmu terbuat dari sebuah pulau, Ram, di Tomia, Buton. Setiap malam, di antara suara batukku, demam yang tinggi, aku mendengar nafas laut. Laut yang tak punya listrik. Laut yang menyimpan masa kanak-kanakmu. Sebuah kamar yang dihuni orang-orang Bajau. Mereka, laut, kamar dan orang-orang Bajau itu, bercerita tentang …

Lidahku jatuh dekat ujung sepatuku. Laut memiliki sebuah kamar di atas bukit Kahiyanga. Ikan-ikan dan batu karang juga punya sebuah kamar di situ. Aku harus menggunakan lidahku sendiri untuk membukanya. Dan suara batuk, dan demam. Dan pulau yang bising oleh pengendara-pengendara ojek. Kamarmu itu, tempat bahasa melompat-lompat seperti ada api yang terus membakarnya.

Setiap malam, aku seperti mendengar nafas laut, ikan lumba-lumba yang sedang menidurkan anaknya … wa ina wandiu diu … malam tak pernah memukuli anak-anaknya di dasar laut. Malam tak pernah membuat dirimu terus menangis setelah bangun tidur. Lalu pul…

Sajak-Sajak Beni Setia

http://www.surabayapost.co.id/
OUT OF DREAM

di antara punya uang dan punya
utang terhampar padang impian:
pengharapan empat varian angka
dari empat belas kali pacuan kuda

menjelang subuh terbayang
di kabut pagi, tengah hari
terpampang: ”yang sejati itu dari gua,
pohon krowak atau pelupuk mimpi?”

”mana yang mungkin?” katamu. primbon
dan empat belas tafsir impen menyatakan:
mesjid itu pertanda kemakmuran. aula bagi
jama’ah yang senantiasa kenyang sendawa

petang hari aku melihat kamu pasang
jerat di cabang lurus pohon durian,
di surut matahari kamu menenggak portas
: menantang kereta tanpa talqin dan takbir

[katamu, ”sajak ini ditulis saat utang menggila
dan di luar: debt collector geram menunggu”]

1988/2008



OUT OF PHYSICS

karena yang tampak itu yang menampakkan
diri dan yang menangkap tampakan; karena
yang terdengar itu yang bersuara, suara dan
yang menangkap suara dari yang bersuara itu

maka: apa nama dari kepastianmu tentang
”harum kesturi” di tengah kelam malam
bila kenangan dan prasangkamu akan ”harum
kesturi” …

Sajak-Sajak Arif Junianto

http://www.surabayapost.co.id/
Berkalung Mendung

demi segala kabut di puncak laut,
aku menunggumu
kerudung yang berkalung mendung
terkibas oleh riuh yang begitu deras
sebab jejak telah demikian koyak
dan waktu begitu bisu,
mengeras keras
tepekur ini,
wujud segala kata yang mengumpar
pada palung yang tak berdasar
serupa hujan yang kutulis, memusar
pada rumput, pada lumut,
dan bangkai perahu yang ditelan dermaga
seperti peziarah yang lelah memunguti arah
dan menyetubuhi tanah-tanah
demi sungai yang berhulu di dadaku,
aku menunggumu
tibatiba rapalan doa
yang menjelma sempurna
menjadi selembar peta
ah, tetapi dunia begitu luka
bahkan dalam keriuhanmu,
kerudung yang berkalung mendung itu
begitu saja penuh duka
jarakmu, jarakku, jarak kita
adalah wujud maut
berkarib dengan pantai
yang terus susut
bagimu,
mungkin kerudung bukan sekedar
berkalung mendung,
sebab bebatu kali
jelmaan langit yang menghantam bumi
hingga membuat tubuhmu: tubuh kita
begitu tak berjarak dari segala
retak
mungkin puisi hanyalah secuil sepi
yang oleh penyai…

Sajak-Sajak Timur Sinar Suprabana*

http://www.kompas.com/

di mata Rindu
:cerita buat eL

di mata Rindu
barangkali aku cuma mripatdadu
tapi di mata Rindu
tiada bisa Jerit menjeratku

padahal telah ia pertaruhkan
seluruh harapan
dan padahal telah ia retaskan
segala pautan

di mata Rindu
di pandang yang menempurungiku
sungguh justru
kutemu Kalbu

luar biasa biru



di mata Nestapa

di mata Nestapa
tiada kusua cinta
segala kosong menjelaga
semua hampa
meraya
kelabu tua

rimbun dan rimba
oleh derita
oleh rasa sengsara
oleh daya siasia
kerna di mata Nestapa
jiwa selalu menghunus pedangnya

terarah ke jantunghati bungabunga



di mata Gulita

tak ada jelita
membayang di mata Gulita

tak ada gerimis hari senja
meriwis di mata Gulita

tak ada warna bungabunga
merona di mata Gulita

tak ada
selain Tiada

sungguh tak ada



di mata Malu

di situ
apa yang kaulihat masih berpintu

selain syahwat memerah dadu

itulah sebab mengapa di mata Malu
tiap riwayat bercadar ragu dan bisu

selalu



di mata Kata

tiap hari
badan, tubuh dan diri
teruji Janji
sampai hijaulesi

di mata Kata
jiwa senantiasa ditempa
biar keluar k…

Sajak-Sajak Indrian Koto

http://www.lampungpost.com/
Lorong Ingatan
-bersama ms

melewati jalan dan keramaian ini
aku seperti dikembalikan pada masa lalu yang jauh
kenangan yang hanya ingin kuingat sebentar saja
tapi jalan dan simpangnya
keributan dan aromanya
telah membuat aku kembali remaja
bersamamu, kususuri setiap peristiwa lalu
masa lalu busuk yang sedikit melankolis
kota, bagaimanapun bekejaran dengan waktu
tapi di sini, kurasa segalanya terhenti
aku seperti dipulangkan sebagai bocah kecil
yang menyusuri jalan yang sama;
lorong, tangga, jalan becek, dan terminal
bagaimana sebuah kota hidup tanpa terminal?
aku menduganya, di sini tak ada keberangkatan
tak ada yang kembali
segalanya hidup dengan rasa
tapi tidak juga. gedung-gedung raksasa
tumbuh dari tanah
menghapus kenangan akan cericit ban, berisik calo
dan hujan perpisahan
bersamamu, kutelusuri kota yang sumpek
tak banyak yang berubah
sekaligus menumbuhkan kecemasan baru
akankah mereka, penghuni kota, kehilangan
perihal lain sehingga kota tak lagi layak di sebut kota

2008



tersebab …

Sajak-Sajak Sri Wintala Achmad

http://www.lampungpost.com/
Ikan dalam Kolam

Di permukaan kolam, ikan mengecipakkan kegelisahan
Hasratnya meraih bulan jauh dari rengkuhan
Di dalam kolam, ikan meluncurkan kehidupan kecilnya
Seperti anak panah yang melesat tanpa arah
Di dasar kolam, ikan menidurkan keputusasaan
Berbantal bayangan bulan yang pupus di pagi hari

Cilacap, 05022009



Pelajaran I

Tofan berpusar seperti naga api
Mengajarkan pada Bima
Lelaki kecil yang
Bakal menyelam ke dalam lautan rahasia
Di mana Ruci, protret diri
Tersingsal di lipatan hati

Cilacap, 01052009



Pelajaran II

Lelaki kecil menerobos badai
Bersenjata tombak warisan moyangnya
Mencuri putri pembayun yang
Terpasung di balik tembok baja
Di mana setiap pintu dijaga prajurit pilihan
Bertopeng dengan mata api
Lelaki kecil pantang pulang
Demi cinta, kematian telah dipertaruhkan

Cilacap, 01052009



Pelajaran III

Seperti kekupu terperangkap di dalam ruang
Berpintu-jendela terkunci
Aku adalah lelaki bodoh yang
Menghabiskan usia dengan pemberontakan tersia
Aku adalah cicak yang terjebak
Ke dala…

Sajak-Sajak WS Rendra

http://oase.kompas.com/
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta

Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu

Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban

Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban

Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya k…

Sajak-Sajak Herasani

http://www.lampungpost.com/
Aku dan Mimpi-mimpi-Mu

Beranjak dari pertunjukan senja
ada yang masih belum berakhir
sebagai kisah;
perempuan beraroma cendawan menyisir kelam rambutnya
“aku ingin menyentuh malam,” ujarnya
Dan langit tak benar-benar kosong
ada geriap gemintang juga simpul bulan
Juga ruang bisu, senyampang waktu
“aku merindukannya,” lenguh kisahnya
Sementara kakiku telah lama beku
tak kuasa melangkah serupa pengelana menuai kisah-kisah
membuat cerita dari ruah mimpi
juga kutuk lunta
maka kulipat peta ku bekam kata
Menunggunya lindap dalam dekapnya

Tanjungkarang, Januari 2009



Embun Itu Turun di Matamu

Embun itu turun di matamu, bersama pagi yang pecah
aku tahu jalan bukanlah jarak; antara mataku dan matamu
tak ada celah tak ada lain kisah
Di setiap pagi aku menadah embun
yang menetes dari matamu
Dan di pagi yang ditentukan
seperti rindu;
aku telah beranjak meninggalkan pagi

Tanjungkarang, September 2008



Bulan yang Kuburu

bulan yang kuburu
kepundannya hitam
pohon yang kusemai
bersemi bulan
dongeng ibu bulan …

Sajak-Sajak Dody Kristianto

http://www.lampungpost.com/
kidung pengelana

bertahun, telah jauh
aku meninggalkan rumah
tak kuhapal lagi
mana letak pintu
dan jendela
bahkan tempat halaman
yang tak kutahu
seberapa luas dan sepinya
karena telah kusinggahi
segala wujud rumah
di seluruh penjuru benua
rumah yang nampak sama,
rumah yang menipu mata
yang perlahan mulai renta

2009



seseorang semirip dirimu

seseorang semirip dirimu
berdiri di sela hujan
di mana waktu
hanya sepenggalan pesan
pergi dan datang
“apa kabar?”
sapamu pada kesunyian
kau masuki halaman
tempat puisi pernah bersarang
lalu kau temukan
seseorang semirip dirimu
berdiam di malam lengang
malam puisi dan bulan
berwarna sepersis kelam

2009



tembang penimang hujan

kami suka menimang titik hujan. kami tergoda pada liris air yang lupa jalan pulang.
air yang tumbuh serupa kumpulan danau di ketinggian. air yang memandang kami
bagai anak-anak dengan tatap paling lengang
di lain waktu, titik itu kerap singgah di kulit kami, di pepori, lantas mengalir ke hati
kami. kami selalu merasa, titik-titik itu iala…

Sajak-Sajak Yuswan Taufiq

http://www.facebook.com/mbahYuswan
jejak pusara

Retak cermin di wajah layang-layang
paras hanyalah utas angin terjerang
Hembus muram membelai ke dasar lembah
suluk menggetar di peluk gerabah

Sayat di gigir laju mendesir
Tanah berembun kembali memanggil
kenang daun-daun menuju mentari
pulang bersimbah akar tercabik

Di belahan mana hembus
liuk munajat telah beranjak jauh
terlontar wajah berlumur rajah
temali angin di riuh sergapan

Di sana kuasa
melekat dayang sehembus moksa
Diriku hanyalah puing membelah haluan
ziarah di pelaminan masa

(10 Juli 2009, sby)



bayi peminta-minta

Bayi-bayi tamasya kota
dalam gendongan jalan-jalan
Menyapa lubuk hati rumahmu
Meratapi nasib anak-anakmu

Memesan seujung kering selimut
sehangat kamar tidur
Menawarkan padamu
gigil basah langit hujan

Merengeki sengatan matahari
selepas lelap menyusu pangkuan
Hembuskan celoteh kanaknya
rindu teduh canda serambi depan

Bayi-bayi polos tersenyum
dalam seringai gendongan
salami dada penderma kasihan

Bayi-bayi terus berjalan
terhanyut hari-hari gendongan
di t…

MITOS PERKUTUT DI TANAH JAWA*

Nurel Javissyarqi
http://id-id.facebook.com/nurelj

(I)
Beribu tahun silam-semilam
tlatah Jawa bersinambungan
kepulauan Sumatera, Madura,
Bali, subur bencah tanahnya
hewan-gemewan, tumbuhan
berjuta-juta ragam jenisnya.

Namun suasana angker menyelimuti
tidak seorang pun berani bersinggah
siapa yang menginjakkan kakinya
berselimut kabut dijemput maut
hanya setan-dedemit menghuni.

(II)
Sampailah babak Raja Rum dapat perintah
dari Hyang Suksma lewat bertapa
wangsitnya mengutus Patih Amirulsyamsu
menyeberangi lautan
mengarungi gelombang demi gelombang.

Ombak mengombak menuju kaki Dwipa
bersama Raja Pandhita Utsman Aji
membuat tumbal demi kelestarian nanti
lima ekor burung perkutut diasmak
atas guyuran air rajah.

(III)
Terbang sudah kelima burung perkutut
atas perintah Raja Pandhita
mengusir setan-dedemit dari lemah Dwipa.

Perkutut pertama terbang ke arah wetan
mengobrak-abrik setan-dedemit
ke pojok wetan pulau Jawa.

Perkutut kedua mengepak beterbangan
mengusir setan-dedemit sampai segara kidul.

Perkutut ketiga menembus kabu…

Darah Trah Dewata

Krisandi Dewi
http://www.facebook.com/people/Krisandi-Dewi/1177407133

Sesemat kata muncrat di angkasa
Termaktub kesumat lupa tak tersebut
Ksatriaku, (yang hidup terlingkup megah nirwana)
Disinilah aku, (yang menelungkup dalam griya rumbia)
Mari cinta… kita tertawa
Menabuh genta tak bernyawa

Ini cemeti,
Yang ini belati..
Dengan mana kita pilih mati??
Tak perlu cawan menadah darahmu
Tuang saja ke mulutku, biar kucium anyir itu
samakah dengan amis punyaku.

Jubah tak senama, (yang kaummu sebut sahaya–sudra)
Telah ku koyak di pinggiran jalan
Sekarang,
aku telanjang!
Tak berkasta

Kemari cinta…
Ini prasasti, sudah kuukir tadi sembari menggurat nadi
Dan ini peti mati..
Tempat kita bergelinjang malam pertama nanti

Mari cinta, Kemarilah sang ksatria..
Bahanakan kesumat kita!
Kesumat cinta berkalang kasta

Lalu pada prasasti akan termaktub kata sejarah
‘Darah trah dewata tumpah di tanah sudra’

Sajak-Sajak Eimond Esya

http://www.facebook.com/people/Eimond-Esya/1345467895
Short Story

Semakin jauh lagi, aku berjalan. Menempuh kilometer
penciuman hidung tajam, bibir tajam, tipis tebal rindu
yang ingin kupasrahkan di atas mayat buku tulis
yang terlentang. Halaman kebudayaan yang kosong

Seperti orang yang mengejar kematiannya lebih dini.
Setiap saat ia dituliskan. Ujung penaku berulangkali
disumbat katarak. Selaput tambur gendang telingaku
menjadi buta. Dan lambungku terbata-bata meremas
kotoran padat bubur semiotika, atau derita tuntutan
akan akhir yang bahagia.

Tapi, O betapa
cerita itu adalah seluruh hidupku. Semua huruf kususun
dengan kuas nafas. Seperti pelukis mematungkan
perempuan murung dalam kanvas. Paras agung kalimat
yang akan terus kucatat hingga alis matanya itu
akan ku buatkan epitaf dari tinta bulu rusa.

Itulah kenapa aku akan terus tinggal di sini. Di tempat
aku pernah pergi. Ketika pertamakali dulu kutemukan
seorang kekasih dalam kalimat yang berkhianat dari
arti hakikat, di atas sumpah hidup hingga lumat
da…

Sajak-Sajak W.S. Rendra

http://www.lampungpost.com/
Pamflet Cinta

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.
Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindui wajahmu.
Dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justeru menciptakan ketakutan dan ketegangan.
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sihat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan.
Suatu malam aku mandi di lautan.
Sepi menjadi kaca.
Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit.
Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada.
Sepi menjadi kaca.

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
Bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?

Udara penuh rasa curiga.
Tegur sapa tanpa jaminan.
Air lautan berkilat-kilat.

Suara lautan adalah suara kesepian
Dan lalu muncul wajahmu.
Kamu menjadi makna.

Makna menjadi harapan
.… Seben…

Sajak-Sajak Budi Palopo*

http://www.jawapos.com/
KIDUNGKU

kidungku tersembunyi di lengking seruling
penggembala yang nyanyi kasihnya berbatu-batu


di tanah lapang tak bertuan pernahkah kau
tebar lenguh sapi demi nyanyi sunyi yang
tersimpan dalam gerak ayun penyabit ilalang?


karena itu, jangan kau gelisahkan daun luruh
selama matahari masih punya kehangatan
daun telinga-ku tak akan terpotong
untuk makanan ternak yang
kau gembalakan sepanjang siang
**



KUTABUH REBANA

kala kau panggil tembangku yang
tenggelam di kedalaman samudera


segera kutabuh rebana di malam sunyi
harapku kau bisa menangkap gerak tari bidadari
dalam pesta kelahiran anak-anak lilin yang
berani merangkak dari rahim ibu-nya


kutabuh rebana sambil bernyanyi, ketika
semua orang terlelap di tanah pengungsian
kutabuh rebana sambil menari, ketika
gerak bidadari menyambut dendang megatruh
dengan kibasan selendang hijau-nya


kutabuh rebana, ketika anak-anak lilin
berani menyembelih kelamin bapaknya sendiri
**



SAYAP BENING-KU

kau lihat bening sayap-ku setelah merpatimu
terbang meni…

Sajak-Sajak Sitok Srengenge

http://koran.kompas.com/
Kata Berkata

Panggil aku kata
Akulah asal mula
Jangan tanya siapa si pertama mengatakanku
Aku malu tak mampu memberi tahu
Walau dengan sepenuh daya
Aku tak sanggup sebut namanya
Aku cuma kata
Asal mula segala

2008



Bunyi Sunyi
Parafrase atas musik Tony Prabowo

Bunyi-bunyi ganjil itu, kawanku, memanggilmu sampai kelu

Jiwa terkucil yang ragu, bersandar bilah bayang-bayang,
melawan arus waktu yang menderas
menggerus mimpi-mimpimu

Kibaskan rambutmu, biar debu gemerincing mengusir sepi
yang selalu menyemai di sela seloroh orang ramai

Biar gairah berpijar bagai putik bunga api,
membakar hari-harimu yang memar

Kudengar derit derita, senyaring rasa sakit paling purba,
mungkin senar-senar syaraf berdenyar didera duka,
atau raung rindu dari ruang gelap tubuh
tak tersentuh

Kata-kata gagu meniru bunyi-bunyimu, cahaya redup,
tak sanggup menjelmakan sosokmu yang gagap-gugup

Hanya hening, membentang antara damba dan hampa,
selengang padang gersang

Kau melenggang, sendiri, meracik benih bunyi:
rintih ringk…

Sajak-Sajak M. Raudah Jambak

http://oase.kompas.com/
SEEKOR KUCING DI PINTU

Seekor kucing mengendus di balik pintu
menatap gerak seekor tikus menuju pintu
aku terpaku menatap ke arah daun pintu
menembus masa lalu dari pintu ke pintu

seekor kucing menerkam tikus di balik pintu
yang tidak leluasa bergerak sebab terjepit pintu
aku terpaku menatap darah muncrat di pintu
mengenang luka menembus pintu ke pintu

seekor kucing puas meninggalkan pintu
meninggalkan sisa tikus membangkai di pintu
aku terpaku menghunus luka menuju pintu
membersihkan darah menutup masa lalu
sebilah pintu



SEEKOR KUCING MENGENDUS RIMAH SAMPAH

Seekor kucing mengendus rimah-rimah sampah di kepalaku
menjilati setiap sisa yang terbuang. Aroma busuk yang merasuk
adalah aroma surga mengundang musafir-musafir kelana
untuk sekadar singgah. Sekadar istirah

entah kali yang ke berapa kucing itu kembali memuntahkan
sisa sampah yang terkunyah. Entah kali yang ke berapa ia
tak lelah menjilatinya. Lalu, entah kali yang ke berapa
para musafir sekadar datang kemudian pergi



LUKISAN RAMB…

Sajak-Sajak Dimas Arika Mihardja

http://oase.kompas.com/
MENGUAK MIMPI, 1

engkau datang serupa bayang
mengeram dalam tilam kelam
kelambu tidur-jagaku
lalu angin nyeret rahasia-mu

engkaulah bayang itu
mengusik tidur-jagaku
tiap waktu luput mengusap wajah-mu
dalam bayang rindu
kuseru cuaca berdebu

engkaulah bayang itu
mengetuk-ngetuk rasa kantuk
lalu dentam rebana bertalu-talu
di hatiku yang merindu

Kota Beradat, 930923



MENGUAK MIMPI, 2

selamat pagi—kata sekeping hati
pagi, ratap nurani. sendiri
aku berselimut kabut. lalu
ada suara—entah dari belahan jiwa mana
berdegup di dada luka:

dimas, berkeramaslah
bergegas menggelar sajadah
pasrah; ikuti geletar darah
takuti petaka berdarah
cabuti jiwa rekah

arika, keranda tersedia
untuk kaubawa berkendara
tertawalah memapah resah-resah
tertawalah selebar sajadah
kau mesti hijrah. hijrah

mihardja, kau dekap kamboja
aromanya menghias makam-makam
keramat. bersiapkanjadi mempelai
merambah kehidupan abadi
sebab mimpi telah dilunaskan
janji telah dikatamkan
dan puisi telah dimakamkan

Sungaiputri, 930923



CATATAN MUSIM LUKA

Di…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com