Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2011

Sajak-Sajak Nurel Javissyarqi

http://pustakapujangga.com/2011/01/poetry-of-nurel-javissyarqi-4/
[PERNIKAHAN MATA]
Untuk K’tut Tantri

Jiwa-jiwa muksa bertarian sukma
ruh berbangkit di tengah gerimis.

Gemerincing binggel kaki penari
kisahkan tarian di tanah pertiwi.

Mata anak-anak berkulit coklat
tangan menyatukan fajar laut.

Menyentakkan bambu runcing
menyobek leher para penjajah.

Daya-dinaya muncratkan darah
seharum melati sepanas mawar,
kain merah putih membalut luka.

Jika petang gerilyawan mengintai
di balik lintang bukit karang nurani
menggelegak jantung menghujam.

Penciuman angin di langit kemboja
belai uban-ubun ditempa purnama.

Sewarna perak pernikahan mataku
di tengah wengi penuh cahaya tinta.



[KEMBANG GAPURA]
Untuk Samira Makhmalbaf

Dari gapura negeri Iran
kepak putri sayap elang.

Kekuatan jiwanya risau
melintasi pusaran awan.

Ketinggian ombak kebisuan
serupa kekupu sebrangi teratai.

Katupan sayap buku di pangkuan
mata mungilnya menggoda insan.

Pangeran melirik dari singgasana
dinaungi cahaya ketenangan senja.

Selaguan seruling lembah gem…

Sajak-Sajak Kurniawan Yunianto

http://sastra-indonesia.com/
DI HUTAN METROPOLITAN

mendadak aku begitu kepengin
seketika menjelma seekor binatang liar
yang hampirhampir tanpa akal
menjadi sepenuhnya percaya pada naluri

menandai tiap menemukan mata air
dengan ludah bacin dan kucuran air kencing

mengabarkan lezatnya makanan
dengan tetes liur dan nyanyian perut lapar

memikat lawan jenis kelamin
dengan wangi sperma dan lenguh panjang

mengusir para pesaing
dengan lentur ayun pada cakar dan taring

lalu berikan aku sedikit arah pandang
dengan kemiringan sudut paling tak terduga
agar makin jeli makin waspada

segera setelah menjadi terbiasa
setelah nyaris semua membosankan
setelah kemudian Hanya benarbenar engkau
bukan segenap yang Menempel pada dikau

hai tunggu apalagi

kau boleh Membunuhku sekarang
agar aku mengerti hidup yang kau berikan

sembilan malam sudah lelap bernyanyi
Bangunkan aku kepada sunyi

29.11.2010



TAK PERNAH JELAS
KAPAN TERTIDUR PULAS

sejak menjelang subuh
di bawah cahaya
yang tak mencipta bayang
matahari menunggu

leleh mata yang lelah
gagal …

Sajak-Sajak Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Syair Ini Untukmu, Sasmitha

Serpihan waktu kita giring menuju sebuah rumah melewati lorong setapak jalan berbatu
Di kanannya tembok kokoh cat putih berlumut, bermulut, dan tak bertelinga
Di sebelah kiri berpagar bilah, ada pohon kapuk dan mangga. Di ujung jalan itu, nampaklah sebuah pelita yang menjadi pertanda sudah dekat akan kediaman yang kita idamkan sejak lama.
Semakin dekat terasa kian jauh, karna menanjak tebing. Kau meminta istirahat sejenak
Berpikir dua kali aku jadinya; bersandar pada tembok atau berteduh di bawah pohon mangga?
Tatapanmu bertanya
Aku tersenyum memandang sambil kuseka keringat di keningmu.
Kau pun lakukan yang sama terhadapku.
Lalu menggelegaklah semangat, kiri atau kanan memang pilihan. Sebab itu kita tempuh perjalanan ini.
Sasmitha, kau dan aku adalah anak zaman yang menepis garangnya warisan masa lalu
Mencoba melawan dengan tangan, kertas, dan percakapan di tengah iklan dan berita yang berlomba saling menjelas-jelaskan.
Kita lanjutkan langk…

Sajak-Sajak Imron Tohari

http://sastra-indonesia.com/
Di Jalan Rindu Tak Usah Kau Tunggu Gugur Dedaun

Ujung garis mata lepas memandang
Langit dan laut menyatu, berbincang
Riak ombak mengangkut beribu buih
Adakah tersebut nama Kekasih?

Saat laut mengombak bergelombang
Airmata kemala memungut doa
Menatap ke depan lambaian nyiur merana
Ketam di pantai pergi membawa bimbang

Angin segara berhembus kepegunungan
Di sana tak ada ombak tak ada gelombang
Tapi hujan semalaman gugurkan dedaunan
Menelan suara-suara subuh yang tergoncang

O, laut kau mengombak;bergelombang
O, hujan kau menderas menelan subuh
Bukan harta benda, kekasih
Bukan kemolekan dan jabatan,asmara
Bukan sematamata sujud dan dakwah,cinta
Kelak kualitas kematianku jua sesungguhnya
Kekasih setia

(di tulis saat berayun di tengah laut menuju pulau sumbawa, 25 Nov 2010. Proses editing dalam pengedapan 5 Des 2010)

ke·ma·la n batu yg indah dan bercahaya (berasal dr binatang), banyak khasiatnya dan mengandung kesaktian.
ke·tam n kepiting berkaki enam dan bersepit, hidup di lumpur di …

Sajak-Sajak Heri Latief

http://sastra-indonesia.com/
Orba Formalin

kerna kita dibodohin dan miskin
kita senang makanan berformalin
begitulah nasibnya rakyat melarat
makan nasi kucing dan minum air hujan
siapa peduli punya nyali turun ke jalan?

Amsterdam, 25/11/2010



Mata Air

mengulang cerita
sayangku kutuklah cinta

setiap pagi kereta penuh sesak penumpang
berdesakan orang mencari kebahagiaan
setiap stasiun harapan ditinggalkan
dan jangan terlalu banyak bermimpi sayang

mendulang syair
sajaknya mata air

Amsterdam, 24/11/2010



Muara Cintamu

berkaca pada masa lalu
kenanganmu disimpan dimana?

namanya juga sepotong cerita tanpa koma
katanya, mengalir dari segunung harapan ke muara cinta

jangan percaya pada rayuan seribu satu janji
lupa tersihir senyum berbisa sayang

pada suatu pagi di bukit api
mendung menantang hujan membuka diri
rindumu sepi di sajak embun pagi

Amsterdam, 23/11/2010



Sajak buat kawan
: Asep Sambodja

di kaki gunung merapi
dingin malam di awal musim hujan ini
kawan, kenangan itu memanggilnya

rembulan mempesona batinnya
terbacalah seba…

Sajak-Sajak Heri Listianto

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
DALAM BALUTAN PERTIWI

Suara angin malam ini,
mengeja langkah mereka
yang berjalan tanpa kawan

sudah lama jiwa menanti semangat kalian

baju merah darah
dengan tali Negara,
kusam berbau nyawa.

Oh bumi
sampaikan salamku
pada ratu-ratu Negara
yang kau kandung selama ini

sebagai salam rindu perjuangan.

Surabaya , 10 Nov 2009



LIMPANG-LIMPUNG

Melandai diatas lantai
Badan kurus bergelimpungan lapar

Duri – duri semu berkata tak jelas
Menggulung pendapat-pendapat bodoh

Diam…! (katanya )
“kalian hanya meringis tak hajat “

ia berkepala tenang
menyelubungi kosa-kosa kata
yang hamper hilang

mereka terdiam kaku ditempat terpaku
sampai asap hutan
berontak menghadap kiblat.

28 Nov 2005



TINGKAI-TINGKAI TIKAR

Pada benih-benih malam yang diam
Menepuk tikar senja
Mataku berkedip melamun lelah

Kunci –kunci anehpun
Menggulung baja subuh yang tidur angkuh

Luntur…!
Hancur….!
Puncak merapi yang tidur disebelah tangan

Karena tahun malaikat
Berubah lelah

21 Okt 2005



KELANA HARI ASMARA

Dari ribuan debu asing
Yang…

Sajak-Sajak Zawawi Se

http://sastra-indonesia.com/
Orang-Orang Percaya
Kau tak menyebut Nama-Ku, kau menyebut namamu
(Gatoloco, Goenawan Mohammad)

mereka menyebut kami
salah jalan,
kami menyebut mereka
sungsang
mereka mengatai kami
mengada-ada
kami mengatai mereka
tak tahu kedalaman
mereka menghakimi kami
sesat
kami menghakimi mereka
“wow hebat”

gelap adalah bukan karena tak ada cahaya tapi gelap
adalah ketika cahaya kami tidak sama dengan cahaya mereka

sesat adalah bukan karena jalan kami tak menuju kepada Nya tapi
sesat adalah ketika jalan kami berbeda dengan jalan mereka

begitulah dunia kami berpercaya
seperti telah menjadi kaki dan tanganNya
seperti telah menjadi mata dan telingaNya

begitulah dunia kami berpercaya
seperti iklan sebuah komoditi di televisi

ketika semua berkata ”kamilah yang paling utama, hanya kami yang paling……..”

Gresik, 2009



Musim Menyebut-Nyebut Kebaikan

ketika telah tiba musim menyebut-nyebut kebaikan-kebaikan sendiri sungguh dia menjadi ragu tentang kebenaran ajaran untuk melupakan kebaikan-kebaikan dan meng…

KESUNYIAN SANG PUJANGGA

Kepada almarhum Suryanto Sastroatmodjo
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=662

Pujangga itu
mendiami lembah pekabutan kemanusiaan
gema suaranya memantul
ke dinding-dinding karang peradaban.

Ia tak kehabisan kehendak, tapi di sanalah telempapnya
kala kita tak sanggup menjangkau kelembutan sukma.

Ia telanjang bagaikan batu-batu diguyur deras hujan
juga sengatan matahari kesadaran.

Yang melihat lelangkahnya di tengah kota sekadar wujud,
kita tiada daya bercakap, manakala anggukan membuyar.

Waktu selalu merawat dirinya beserta alam kelembutan
isyarat angin serupa ibunda mengamatinya penuh takjub
kala ia melantunkan kata-kata menyayat-nyayat bathin
bebatuan kerikil berserak, deru hiruk-pikuk keramaian.

Ia mendamba mendayung alam ke muara sentausa
sedekahnya bersandar pada gundukan batu besar,
kepala berbaring itu, mengisi nyanyian renungan
saat berdiri, bencah moyang beri restu kerelaan.

Tampak kepanditaan hadir tidak butuhkan apa-apa
hanya yang tercurah sedari langit dirinya tengadah
kuasa-Nya dijan…

Sajak-Sajak Oky Sanjaya, Ahmad Musabbih, Widya Karima

[Sajak-sajak ini secara berurut adalah juara I, II, dan III Batu Bedil Award yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanggamus dalam rangkaian Festival Teluk Semaka].
http://www.lampungpost.com/

Pukau Kampung Semaka
Oky Sanjaya

baru semalam aku pulang
subuh mulai menyulut tubuhku
namun siapa yang tak lekas pukau

Anjing menyalan Azan!

Di ujung jalan batas marga, dulu,
orang-orang pulas
selalu berkisah
tentang dengung kampung
tentang jimat penolak bala
yang ditanam waktu purnama
senggikhi kutti di tanoh sinji 1

Dan kami, pewaris marga, tinggal menjaga lada
mengunyahnya bila subuh menyulut.

Tapi lada hanya penyedap rasa.

Aku mulai melangkah
ingin membasuh muka
di sungai Semaka
Dan air sungai berwarna cadas.

Catatan:
1. seganlah kalian di tanah ini



Menjaga Cinta di Teluk Kiluan
Ahmad Musabbih

Kalau cinta ingin tetap terjaga
tengolah teluk berbunga
yang mengasingkan jantung
dari denyut kota

Di lubuk yang dijaga bukit-bukit
di teluk permohonan
tak ada yang dapat kucatat
juga kugambar
selain hati yang terus berg…

1975 [Sajak Robin Dos Santos Soares]

Robin Dos Santos Soares
http://www.kompasiana.com/robin

Aku merasa kesepian, kehilangan nalar, suara hati.
Tersesat di hutan-hutan hijau.
Pagi itu 7 Desember 1975, aku berlari melawan arus manusia dan binatang.
Bersembunyi di batu-batu tajam melihat kupu-kupu hitam terbang dengan bom.
Sejarah sedang bergerak dengan genosida.
Ibuku korbankan nyawanya untuk aku:
berlari dan berteriak sampai di ujung dunia.

Kamu sudah menyaksikan kematian ibumu, adik-adikmu,
saudaramu tidak tahu apa arti perang, politik dan ideologi.
Hari ini aku mendekati aroma kematian ibuku,
aku masih dalam kesunyian dengan jiwaku, jantungku yang mulai membeku.

Aku ingin berlari lagi melewati hutan-hutan hijau, bersembunyi dibalik batu-batu tajam. Mencoba mengingatkan mayat-mayat tak terhitung, berdiri di tepi gunung Matebian dengan protes terhadapa perang, pemerkosaan, pembunuhan massal.

Kini tenagaku hanya bergerak dari gubukku mengatur nafas, membuang ludah. Tanganku tidak bisa bergerak dengan pena. Hatiku tidak buta dengan seja…

Sajak Pranita Dewi

http://www.infoanda.com/Republika 6 Juli 2008
SUATU HARI DI SUATU SENJA
: bagi Jengki

Suatu hari
di suatu senja
kau tahu di mana bayang kita
akan tiba

Gagak-gagak melengking pilu
seperti ingin mencari
rumah untuk pulang
istirahat dan tenggelam
pada diri yang asing

Aku asing pada hidupku sendiri
tak ada lagi bintang
yang kita lihat dulu
dan berharap cahaya
yang tak tertutup itu
adalah nujuman bagi kita

Segelas tuak
kita teguk
untuk hidup yang sia-sia

Kemana mimpi pergi
di mana bayang ibu
yang dulu kau sebut itu

Seteguk tuak
seperti membawamu kembali
bagai bocah
menatap bintang
dari balik cahaya kelereng biru
lalu kau tahu
bahwa bintang
sebenarnya tak punya cahaya
kecuali biru
dalam mata bocahmu

Suatu hari
di suatu senja
kau akan mengajakku pergi
membangun mimpi-mimpi
jadi puisi
yang kita gali bersama

Sejauh ombak yang datang
mata nelayan yang nyisakan kegundahan
kemalangan
ia tahu akan tiba

Kau tahu
bintang-bintang itu
tak lagi punya cahaya
selain abu di langit
yang tampak ragu
tenggelamkan senja
yang kita kejar
dari Denpasar
hingga ke …

Sajak-Sajak Fatah Yasin Noor

http://sastra-indonesia.com/
Puisi dalam Peti Jenasah

Aku menjumpaimu saat air mata itu telah mengering. Seperti puisi mati dalam peti jenasah. Tapi aku mencoba membongkar lapis demi lapis riwayat daun di situ. Seperti hujan kemarin, bau tanah dan asap dupa masih menyergapku. Aku tak percaya engkau telah tiada. Seharum bau kematian itu sendiri, dari semerbak kembang mawar dan melati yang menembus kamarku. Di sini, semakin tegas dan penuh makna saat senyum di potretmu itu terus memandangku. Dinding ikut gemetar. Padahal ribuan puisi telah kutulis atas matamu. Dan getaran jiwamu yang senantiasa bercahaya. Tak ada isyarat sebelumnya, bahwa perjumpaan mesra kita berakhir di situ.

Kalimatmu seperti ingin mendekati Tuhan. Dari tumpukan kertas yang terus menggunung, menjadi instalasi dalam rumahmu. Bayangkan bagaimana kata-kata berloncatan di situ, tak dibaca lagi. Karena ingatan semakin terbatas, dan engkau terus menggerutu soal kenangan. Mari kita terus menyimpan data itu untuk anak-cucu, kat…

Sajak-Sajak Indra Tjahyadi

http://www.suarakarya-online.com/
Maut Melesat

Dari perih jiwaku, maut bersayap melesat,
meledakkan waktu. Burung-burung marabu yang terkapar
di ujung cakrawala memekik, meniadakan tidur.
Aku terasing dari setubuh, tubuhmu yang telanjang
membentangkan kelam kuburku. Pohonan beringin tepi
jalan mengering tanpa umur. Jejakku mengerang di pusat
kabut, menginsyafi alur sedu kembara kesepian terkelu.

Kemudian ingatanku pun memasuki sunyi,
berusaha menangkap degup laut yang
ditenungkan manis
bibirmu. Kejantananku kian jalang kian malang
menempuh pelayaran luka, menjadi perompak bagi
hitam ombak dan lelumut. Tapi entah bagaimana di antara jaga
dan tidur masih saja kubayangkan besar pantatmu. Aku rasul,
tersalib di mula surup. Hanya ditangisi senyap dan pelacur.

2006.



Syair Setenang Bulan

sebab cinta terlampau perih
terlampau rintih menusuk kalbu
menujah hati

segarang gersang menghalau hujan
setenang bulan menghalau kelam
kureka warna senyummu

: ada hijau, putih, luka dan burung-burung
yang menulis ombak pada biru lau…

Sajak-Sajak Zawawi Se

http://sastra-indonesia.com/
Di Gaza Kami Rindu LemahlembutMu

di jalur ini
telah berabad-abad rakaat
kami rindu KemahalemahlembutanMu

melalui anak-anak manjaMu
melempari kami dari segala penjuru
dengan berbagai alat pemusnah
paling mutakhir

di jalur ini
telah lahir begitu banyak ratapan
ketika kehilangan demi kehilangan
menjadi mimpi selalu kami temui
dari kelam ke kelam

apakah kami benar-benar bebal
hingga tak dapat menangkap
isyarat kekerasanMu
selalu Engkau timpakan
selama berabad-abad khianat
diantara ratap-ratap
pada jalur-jalur pengap
oleh kefakiran kami

Januari 2009



Poster-Poster 2009

ini tentang wajah-wajah
terpampang ramah
di pinggir-pinggir jalan dan tempat keramaian
dengan akting paling rupawan
berharap-harap sekali tikaman
di bagian manapun yang paling aman

ini tentang wajah-wajah
terpampang murah
di pinggir-pinggir jalan dan tempat keramaian
dengan slogan-slogan semanis durian
berharap-harap sekali tusukan
buat nangkring di kursi nyaman

ah, ini hanya tentang muka-muka
dengan senyum paling ceria
seperti bersen…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com