Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2011

Sajak-Saja Laela Awalia

http://www.lampungpost.com/
Hujan yang Senyap

Hujan di Palembang mungkin sama dengan hujan di tempatmu, rama
tapi entah mengapa aku begitu yakin ini hujan yang berbeda

tak ada tanganmu yang terulur menjangkau titik-titik hujan yang jatuh dari atap rumah
tak ada matamu yang sayu menatapku dalam diam
tak ada kebisuan yang kau hadirkan untuk memasung rasaku dalam ruang rindumu

yang ada hanya ruang tak berdinding
senyap dan dingin

Palembang, 10 Juli 2010



Hujan yang Tak Bisa Aku Lakukan
: rama

Apakah kau masih mengingat hujan ini, rama?
hujan yang kita beri nama hujan kenangan

kau ingat ketika tangan-tangan kita membentang menengadah hujan?
mencoba menampung titik-titik air yang berebut turun dari langit

apakah kau masih mengingat hujan ini, rama?
aku masih mengingatnya
selalu mengingatnya, dan mungkin tak akan pernah lupa
meski esok akan turun hujan-hujan yang lain, yang mungkin kuberi nama lain

bagaimana aku bisa melupakannya, rama?
jika setiap hujan datang
aromanya selalu menggigilkan hatiku
ada getar yang mu…

Sajak-Sajak Muhammad Amin

http://www.lampungpost.com/
Secangkir Kopi Dingin

kaulihat malam hitam langit hitam
menetes-netes di keheningan
sehelai rambut yang direntangkan
sejuntai anggur di lekuk dagumu

kausesap aroma tembakau di sisa
raut malam menghela dingin mengeja detak
berlayar dalam aliran darah
yang harum mawar basah

kaudengar denting hujan beradu
di sesela jendela terbuka
dan malam hampir tandas
di haribaanmu mengaduh
terkelupas serupa kulit jangat yang terbakar
di atas tungku batu sedingin pualam

kaulihat kupu yang sekarat jadi abu
apa yang orang-orang lakukan di ruang tunggu?

Kemiling, 140211



Puan Tanjung

sungai ini membawaku berlayar
tanpa lubuk tanpa muara
batu kerikil di dasarnya
dan ruhmu mengendap di sana
sungai ini begitu panjang
terbentang tak ada ujung

mulut perahuku bercakap dengan udara
dan insang ikan
“di mana hulu
di mana hilir?” suaramu di buih air

sungai ini takkan mebawaku ke mana-mana
karena ruhmu masih di dasarnya
antara kerikil dan pasir

Kemiling, 170211



Kunang-kunang

ada kunang-kunang di matamu
yang berpendar cahaya…

Sajak-Sajak Zawawi Se

http://sastra-indonesia.com/
Apakah Tuhan Pernah Salah
~ untuk antok ~

pagi yang mendung seolah menjadi murung ketika aku mendengar suara-suara yang bukan hanya sekedar kabar burung bahwa tadi malam engkau kehilangan jantung.

jantung yang telah menjadikan engkau bergairah dalam mencari nafkah. jantung yang memacu engkau bergelora dalam berkata-kata. jantung yang membuat engkau berderai dalam tawa. jantung yang tak menyurutkan langkah meski engkau dalam lelah. jantung yang terkadang juga memamah rasa cemas di dadamu.

apakah suatu ketika Tuhan pernah salah dalam memilih menikam jantung hamba-Nya yang lebih tabah dalam setiap sembah melintasi lekuk-liku jalan perbukitan kehidupan.

Pondok Permata Suci, 25 Maret 2011



Menari

kami ingin gerak kami semarak dan gemulainya menjadi laku kami sehari-hari, bukan hanya sekedar banyak lisan dan sedikit perbuatan yang menjadi pedoman kehidupan kami sehingga ketika besar kami menjadi sabar dan tak kasar kepada setiap orang, bahkan kepada orang-orang yang mesk…

Sajak-Sajak Udo Z. Karzi

http://sastra-indonesia.com/
Ajari Kami Bahasa Cinta

ajari kami bahasa cinta
bukan kekerasan telanjang yang dipertontonkan
bukan unjuk kekuatan yang menggersangkan jiwa
bukan otot lengan bertato preman
yang tak kenal nilai kemanusiaan
yang tenggelam dalam kebiadaban

: di simpangpematang pencuri ayam
dibakar massa sambil menari-nari

ajari kami bahasa cinta
bukan kekuasaan membelenggu kemerdekaan
bukan piil yang diumbar sekadar mempertaruhkan harga diri
sebab, barang ini sudah lama tergadaikan
sejak berjuta-juta abad silam ketika air tanah,
hutan, kopi, lada menjadi milik orang-orang mabuk harta
bukan pisau badik haus darah yang menangis
saat dikembalikan ke sarungnya
bukan pedang berlumur dosa yang siap menebas
leher siapa pun yang menyimpan kesumat

kemarin seseorang mengancamku: kupagas niku kanah
hari ini aku mendengar ia mati tertikam belati
seorang pendendam tak dikenal sudah lama mengincarnya
besok entah siapa lagi yang akan mati sia-sia

ajari kami bahasa cinta
bukan bahasa anak jalanan yang penuh luka
yan…

Sajak-Sajak Matroni el-Moezany

http://oase.kompas.com/
Sakitnya Melahirkan Kesadaran

Aku berlari di hatimu Karena takut kata-kataku mengering Kegersangan, kedangkalan, dan kebingungan

Di pantai ketiadaan Hidup dari tubuhku yang berwaktu Walau masa lalu kejam Kekinianku lebih kejam

Baru sekarang aku kesakitan Melihat kematian kesadaran

Padahal sadar itu milikku Menyadari juga milikku Mengapa dibiarkan Tersandung kekinian

Hidupku menjadi sampah Mati dan terlempar Aku tak ingin terbunuh oleh diriku

Malam Tak berdetak melihat di tepi rindu Kesunyian yang mengitari tradisi Hidup di ruang waktu Akan hampa Jika kita tak mampu memberi roh pada mereka

Yogya, 2010



Rancak Gelisah

Rancak gelisah, Menunggu jawaban Di tengah suburnya buah ranum sarjana-sarjana Sementara atap kita masih rumit Sementara kulihat di dalam kamar Sepasang songkok hitam di dua sayap garuda Menoleh kekanan tak melihat apa-apa Dengan berbagai kegelisahan tak selesai Diam tak menghiraukan duri bangsa Ia tak seperti taring-taring penguasa yang tak memiliki makna

Kutu…

Sajak-Sajak Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Sajak Lawan

Sajak para penyair
Menggebu-gebu mengetuk hati sang pujaan
Mengutuk kezaliman dan yang mereka anggap dosa
Mengetuk pintu kekuasaan dan kesadaran derita manusia

Tetapi bagiku
Sajak ini kutulis untuk menghantam, mendobrak pintu kekuasaan yang terkunci rapat
Biar mereka kaget terkejut
Dan lalu membelalakkan mata menyerangku dengan ribuan serdadu
Sekali titah

Dan aku akan menghadang mereka hanya dengan satu kata
Yang lebih hebat daripada seribu tentara
Sebab kata adalah senjata

Lawan!



Kenapa?

Kenapa mereka bicara tentang kemanusiaan di ujung bumi sana
Sementara kemanusiaan di sampinya sedang menganga mulutnya
Kehausan.

Branda-cafe , februari 2011



Majalah, Koran, dan Televisi

Penjual koran mungkin tak sadar, propaganda yang ia teriakkan menggigit kulit
Rakyat terjepit

Penjual majalah remaja mungkin juga tak sadar sepenuhnya
Ketika anak sekolah menjadi pencuri karna melihat arloji di tangan model di sampul majalah

Sementara tak ada waktu untuk menawar.

Pembaca berita di telev…

Sajak Y. Wibowo

Lampung Post, 29 Mei 2005
Mamak Kenut di Rembang Petang
: Udo Z. Karzi

Mamak Kenut menuturkan seseorang
(dua atau tiga orang) atau peristiwa-peristiwa
yang menghadang–si pencari pintu pulang
hari-harinya resah
; hidup mengaji diri mengaji yang absurd
dan kenyataan

Tapi tetap saja ia gundah
Menjura seribu bintang
menengadah pada langit di rembang petang
ia susun rencana
–malam-malam mimpi tercipta
; buah pergulatan dan laku-kerja
sekalipun sewujud petaka

Mamak Kenut meramu saripati kehidupan
seseorang (dua atau tiga orang) atau tentang lain kemungkinan
sehingga ia putuskan; menjelma kanak-kanak pada dunia
dengan rasa sepenuh riang

Tapi masih saja ia resah
Menghablur di puncak-puncak ketinggian
menyisa perih kenyataan
lalu ia lipat sejarah
–masa lalu adalah kenangan
; ingatan tentang denyar persetubuhan
dalam catatan getir
nyinyir dan sumir
selamat malam

Karang Anyar-Jati Agung, Lampung, Maret 2005

Sajak-Sajak Gampang Prawoto

http://sastra-indonesia.com/
Duapuluhtigamantra

kau
berlayar dari tetes
tetes tebu
sebab
basah yang kau arungi
adalah madu

empatpuluhenam helai lautan
tersisa duapuluhtiga mantra
sebab
lembab yang kau tanam
bersemi di sudutsudut mataku
menjadi ombak
menenggelamkan perahu
perahu bertatahkan lembar
lembar kertas
duapuluhtiga mantra
yang kusalin
dengan tintatinta airmata

Napis VI – plat”S” ,00012009



K u w a l i

Moyangku pernah menanam jarum pada pembaringan akhir tatkala awal kehidupan mulai menyemai airmata bahagia, bersanding pena, kaca dan daundaun bumi membasahinya degan segenggam garam samudera pada kuwali agar asin dan rasa tak lagi meninggalkannya.
Sedangkan akalmu pernah menanam cinta dalam septy teng dengan menggadaikan kemaluan di apotek apotek tanpa resep,karena nadimu telah mengabarkan pada jamur bahwa kegelisahan mulai tumbuh dan bersemi dimana-mana.

Kakekku pernah memisahkan nafsu dan cinta hanya dengan silatan bambu dan menggantinya degan semusim nyawa yang diramu dari buah mengkudu dan kunyit ja…

Sajak-Sajak Salman Rusydie Anwar

http://sastra-indonesia.com/
Laut Menyimpan Bau Tubuhmu

Berdiri di tepi laut, gemuruhmu mengalir
membangun lempengan-lempengan rindu terbakar
Bersama senja membasuh kaki-kakinya diujung riak
kudayung doa ini meniti gelombang
Kutatap wajah pantai murung, dan karang hitam
berlompatan ke dalam gigil

Berikan sisa bau tubuhmu agar mampu
mengasinkan perjalanan rasaku
Mengecap segala renyah keringat nelayan
yang melepas sauh hingga ke ujung malam

Meski mungkin hanya laut yang mampu
mendebarkan ombak di dadaku
meredakan sisa sakit
yang mengukir dirinya di tubuh-tubuh karang berlumut
Namun di bau tubuhmu
aku dapat menemukan tempat untuk berlabuh

Kebumen, 2011.



Usai Cinta Membaca Gerimis

Apa yang kau temukan pada kaki-kaki gerimis
di wajah jendela, usai kita mengurai cinta?

Malam seperti menyusun lolongan panjang
memperdengarkan riuh ricuh mulut si gelandang
yang tak mampu melabuhkan secuilpun kecupan
pada bibir kekasihnya pucat gemetar

Dari balik kamar yang menyimpan parfum kesukaanmu
aku melihat gerimis seperti ujung j…

Sajak-Sajak Ahmad Syauqi Sumbawi

http://sastra-indonesia.com/
Satu-satunya Dosa adalah Beda
-kaum t.

seorang menyuluh perhelai waktu, lalu
mengasah senjata dengan santan darah
dan mengentalkan tajam di dadanya
memanahkan aksara
dalam wilayah yang membuta mata

tuhan, cinta, negara, manusia, agama
meringkukkan makna logika
mampat dalam kelindan kening hitam
menyembah tuhan
yang berkaku mengerek waktu, lalu

seorang memandang kata dengan lup
dan telah cukup, makna bahasa melampui hidup
bersama mata menggaris sinis
mengadili wajah-wajah bopeng penuh mimis

satu-satunya dosa adalah beda, katanya.
setan gentayangan

sungguh, kebenaran maha tunggal, kataku
dan tentu, tidak bersekutu denganmu

Lamongan, 2010



Warna Terindah

mungkin aku salah, tapi laiknya
dia telah merampok surga dan neraka
dari tangan tuhan
dengan membawa pentungan dan
suara lantang berkobar-kobar, membakar semua
dengan namanya yang mencipta getar

mungkin dia benar, tapi laiknya
dia telah berkehendak semena-mena melebihi tuhan
dengan tanpa tawar-menawar memakukan dosa
pada hitam, kuning, putih…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com