Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Sajak-Sajak Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Stasuin Ijo Kebumen

Stasiun Karang Anyar lenyap oleh lelah
Stasiun Ijo jadi pilihan

Kami turun, berlari
Padahal rasa kantuk nan lapar kian bergumul,
Lantas kutulis sajak ini di teras malam stasiun agar terkenang esok
Agar menjadi peristiwa di secarik kertas
Sambil menunggu jemputan yang tibanya setelah kokok ayam jantan
Yang saling bersahutan seolah menyambut kami yang kelelahan.

20 Januari 2010



Wrutuk*

Seekor wrutuk berbaring di telapak-tanganku seperti mati
Saat gelombang mencumbu bibir pantai

Gelisah ia mencium bau laut yang khas

“tenang saja” Bisikku,

Lalu kuletakkan ia, tubuhnya masuk ke pasir sembunyi
Tak nampak jejaknya seperti sesajen yang hilang ditelan ombak selatan

Pantai Selatan, 21 Januari 2010
*sejenis rimata laut berukuran, kecil yang hidup di pasir pantai menyerupai



Di kapal antara Merak-Bakau Hueni

Penumpang-penumpang hilir mudik mencari sela istirahat memburu nyaman
Sementara bujuk rayu pedagang buku bertambah seru

Dua jam pelayaran kiranya cukup melelahkan

Di a…

Sajak-Sajak Raudal Tanjung Banua

http://www.lampungpost.com/
Ke Pedalaman

1.
arus yang lamban. jembatan kayu tua
hitam batu bara
teronggok di tongkang renta
adalah susu perempuan negro
tersesat di borneo
seorang perempuan iban
menatapnya iba
“kita sama-sama matang oleh derita,
sama-sama malang di bumi yang sama.”
mourina, perempuan iban itu, kujumpai ia
di atas jembatan kayu tua
melintasi anak sungai
yang merana

2.
“tak ada yang kami miliki,
kecuali dengus nafas
kuli tanah sendiri,” masih kusimpan cakap
laki-laki bercaping pandan bagai seciap
anak ayam hutan
yang lalu bergegas hilang
ke kelindan asap pembakaran
pelepah sawit yang menua

3.
waktu kembali
ke pangkal jembatan kayu tua
perempuan dan laki-laki itu
mencangkung tanpa suara
bagai patung minta kembali ke asal-mula:
pohon, kayu, batu di rimba. saat itu aku merasa
tidak ke mana-mana; diri adalah pedalaman
yang diangan. kian dalam, kian banyak tak dikenal

/Batola-Yogyakarta, 2009-2011



Sampah-sampah Mengapung

ini zaman sampah-sampah mengapung
orang-orang gugur di mataku
tiap hari makin banyak yang kub…

Sajak-Sajak Denny Mizhar

http://sastra-indonesia.com/
Cinta Di Bulan Juni

Bila yang pernah aku temui adalah hujan bulan juni*. Kini usai pada matahari bulan juni**. Ada kabar tentang waktu yang menua dan harus tergantikan dengan kemudaan. Melewati hari-hari sepi bulan juni. Sehabis aku meninggalkan jejak pada mei yang penuh luka dan darah dalam sejarah bangsa ini.

O juni, gadis-gadis menari dengan lekuk tubuh yang memancing gelora cinta membumbung ke awan. Kesepian dan kelukaan tentang hati sedikit meredup dalam gonjangan jeratan kisah. Akankah menjadi kasih?. Bila masa lalu masih ingatkan akan dendam pada tuhan yang memberikan kasih rapuhku (Bukankah masa lalu adalah cermin). Aku menyegerakan diri membasuh wajah luka dengan air suci menatap langit dan merebahkan diri dalam do’a-do’a panjang. Harapku adalah musim cinta akan aku petik dari gadis-gadis penari yang mengeja lakon-lakon sandiwara dengan tariannya.

Masih aku gemgam kalimat tanya. Masih aku simpan kalimat tanya. Masih saja, tak hendak meletup padanya.

Ki…

Sajak-Sajak Salman Rusydie Anwar

http://sastra-indonesia.com/
Lumpur

900 hari lamanya, aku gali lubang tanah ini. Tengoklah ke dalamnya. Kau akan temukan kerangka tubuhmu yang terlilit akar. Akar dari segala akar, yang sulurnya terus memanjang dan merambat sampai ke dalam otakmu. Mungkin kau tak merasa bahwa sel saraf di otakmu telah menjelma menjadi akar. Penuh tanah. Penuh debu. Hingga kau tak mampu membedakan cahaya matahari dan kunang-kunang.
Di malam kesekian. Dimana rembulan hanya mampu menyorotkan kecemasan. Aku berteriak. “Kau benar-benar makhluk berasalusul lumpur. Hatimu menjelma lumpur. Otakmu penuh lumpur. Matamu tertimbun lumpur. Telingamu tersumbat lumpur. Bahkan, langkah dan rencanamu hanya sampai di kedalaman lumpur.”
Aku mulai lelah. Ingin menutup lubang tanah ini. Juga sekalian dengan akarnya. Aku tak ingin sel saraf otakku menjadi akar, yang merambat dan menghisap darah di hatiku atau mungkin juga di hatimu.

Kebumen 2010.



Sempor

Ini wadukku. Tempatmu merendam gelisah. Tenang bening air seperti hamparan pe…

Sajak-Sajak Akhmad Muhaimin Azzet

http://www.infoanda.com/Republika
DI LERENG MERAPI

asap tebal yang membumbung itu
mengarah ke utara
sementara aku menatap selatan

guguran lava itu menggetarkan jiwa
tetapi aku hanya terpaku
dalam pesona awan bergumpalan

zet, sudah saatnya mengungsi
ke mana engkau menyelamatkan diri
namun kaki ini kaku, jiwa pun kelu

2006



SELALU ADA JEJAK

bahkan aku tak pernah mencatat
bekas air atas batu-batu dan ganggang
apalagi belaian angin pada dedaunan
hingga gemerisik dalam kemesraan

padahal selalu ada jejak
tak sekadar tanda
yang akan menjadi saksi
saat berjumpa

bahkan aku hanya bisa diam
saat kesunyian kian larut pada malam
menumpahkan segala gerak pesona
tanpa suara, tanpa kata-kata

2006



MEMILIH KEMBALI

kemacetan demi kemacetan telah merangsek

dalam hari-hariku, lihatlah, betapa luka
telah tumpah di seruang dada
bau anyirnya mengaliri jasad yang gelora
meninggalkan polusi dunia

di manakah rayuan yang dulu kau nyanyikan
nyatanya mengembarai waktu
hanyalah kota yang kian berdesakan
wajah kepalsuan

dalam geremang malam yang kegera…

Sajak-Sajak Imamuddin SA

http://sastra-indonesia.com/
BECERMIN DI HENING AIR

kusampaikan bening keraguan
pada dedaun pupus
biar segala kegoncangan angin
tercurah di redup cahaya senja;
kemarin

mungkinkah ini aku
becermin di hening air
memunguti sisa luka yang hampir punah;
ah, jangan-jangan yang kulihat adalah wajahmu
wajah yang telah kupinjam darimu
beberapa waktu lalu

dan aku pun menyaksikan
lewat kedamaian alirnya
ada sesosok bayang-bayang
bersujud pada tubuhnya
Kendalkemlagi, Oktober 2008



MENGERINGKAN LARA

bershalawat
mengeringkan lara
dalam ketakjuban hampir sirnah
membayang kejernihan syafaat
dari kesempurnaan cahaya di atas cahaya

aku yang duduk dalam gelap lampu
nyaris tersenyum
menyapa sayup nyanyianku;

ah, tembangku mengalir
membentur-bentur dinding waktu,
kembali menyapaku

Kendalkemlagi, Oktober 2008



KEPADA HALAJ

kau tak pernah memanggilnya tuhan
tapi kau kerap berbisik padaku;
aku
aku
aku
haqq!

meski berkali-kali suara itu mengusik
namun aku masih tak mengerti,
ada isyarat gaib di samudraku
ada maqam yang belum tersentuh

sungguh mustahil
a…

Sajak-Sajak Nunung S. Sutrisno

http://www.lampungpost.com/
Terampas di Kotamu

setelah pagi yang meremas dingin di kota lamamu
masihkah kau menungguku
di pojok taman kota di bawah pepohon waru?

sedang di sini aku masih berbenah setiap kata mengaliri
dan menjadikannya



Aku

mengapa tak sejenak kauendapkan
semua hujan untuk memulai rindu yang baru?

ah aku telah dirampas angin
tandas di deru kotamu

Tanka 11



Di Beranda Rumah

kaktus-kaktus masih basah
sisa hujan semalam

wangi pagi begitu khas seperti aroma segelas kopi
yang rajin kau pertemukan denganku, duhai kekasih

desik daun daun bambu meningkahi gemericik air kali
yang kini tak jernih lagi

namun apakah aku tak boleh menyimpan kenangan itu
atau dia tak pantas tersimpan di tempat yang kotor

atau kau ingin membingkainya seperti foto pernikahan kita
yang kini nampak sepi di atas meja ukir lusuh dan berdebu

ah, mungkin kita harus segera berharap agar hujan turun lagi
agar wajah wajah kita tersusun kembali dalam cecapnya

dalam jangkauan tangan-Nya.
Terima kasih Gusti.

Tanka11



Di Sepanjang Jalan Enggal

p…

Sajak-Sajak Dody Kristianto

http://www.lampungpost.com/
Penunggu Pancang

terima kasih
sudah kau memarkan
tubuh kami

jejarum lancipmu
melebihi bilah pedang Persia
yang berulang
menghunus tubuh kami

tapi sungguh
kami tak kunjung mati
sebab kau bukakan lagi
pintu bagi kami

menuju liang:
alamat para penggali
mencintai namamu
yang tak mampu
kami seru lagi

2011



Pencatat Hikayat

ia selalu kembali
serupa padri yang tak mati
segala bara dipindainya
untuk langit yang tak ia dapati
di kamar sempitnya

2011



Pengusung Hujan

sepasang tanduk
lebih tajam
melukai pipi malam

sepanjang tatapannya,
sebarisan semut
pendar
berpencar
dari liang tubuh
menangkap kemercik

yang diyakini
sebagai benih cinta
untuk musim tanam
yang akan datang

2011



Tiga Tilas Kuping

bunyi pertama:
sepasang kesabaran
yang bosan melintas

sebab telah renta ia
melebihi kerentaan daging bumi
yang tak kunjung ia retakkan

bunyi kedua:
sepasukan pengelana
yang tak ingin berpulang
ke ketinggian

sebab purna sudah ia menarik
segala macam kerinduan
yang dipanjatkan manusia

ia lelah mendengar doa
dan semua mantra

bunyi ketiga:
s…

Sajak Iwan Nurdaya-Djafar

Pembelaan Hawa
http://www.lampungpost.com/

Namaku Hawa alias Eva,
boleh juga kaupanggil aku Eve
bila memang kau penutur bahasa Inggris
kalian mengenalku karena akulah ibu pertama
dari rahimku dan gua-garba kaumkulah kalian berasal
tapi dalam asuhan patriarki
anakku lanang menjelma si malin kundang
yang menghujat ibunya sendiri
kalian tak mendalam memahami kitabsuci1
dan percaya begitu saja pada dongeng yahudi tua
yang diselundupkan ke dalamnya
bahwa aku tercipta dari tulang rusuk Adam
bukan dari citra Allah seperti Adam tercipta2
kalian tak sungguh mendalami khasanah hadis
menyebut hadis israiliyat yang palsu sebagai sahih3
bahwa aku — lagi-lagi — tercipta dari tulang rusuk lelaki
bahkan bukan tulang rusuk pilihan
tapi justru yang paling bengkok
yang mudah patah
demi menyebut diriku dan kaumku lemah
padahal dalam kitabsuci yang furqan
aku dan Adam tercipta dari nafs wahidah4
artinya tanah yang ditiupkan ruh Allah.

tiba di sini masihkah kalian percaya
pada dongeng yahudi tua
yang menodai kitabsuci dan hadis
yang …

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com