Langsung ke konten utama

BALADA SUMINTEN ‘KEDANAN’

Nurel Javissyarqi

I
Raden Mas Subroto bersemedi
menghadap Sang Hyang Widhi;
Dia lama bertapa brata asmara
demi Suminten jadi kekasihnya,
hingga akhir hayatnya.

Di kaki bukit Jaran Dawuk
menggumuli alam semesta;
setiap tarikan nafasnya udara,
suaranya pelan menggerombol
seawan berpindah ditarik angin...
hawa dalam dirinya membumbung
bagai uap air direbus sampai tua.

Bebutiran embun air matanya
tebing nan menjulang tekadnya,
untaian rambut sehitam anggur
tergerak sesungai malam-malam,
se-krentek batinnya berderit-derit
senyanyian bambu merintih perih.

II
Putra Adipati Trenggalek Brotokusumo
selalu merapalkan mantra-mantra puja,
hasratnya leburkan diri dengan bukit purba
letak Sang Resi mensucikan diri dari dunia.

Raganya bersila
jiwanya mengelilingi pebukitan cinta
menelusup
antara cela rerimbun dedaunan,
pepohonan.

Kadang sukmanya menjelma burung
pula memasuki jasad turangga terlunta,
yang memekik sebelum melesat
ke tlatah tak terjamah manusia.

Waktu-waktu menghitam berputar cepat,
separas bumi panas rindu menggelinding,
memecah sisi-sisi keangkuhan, ketamakan.

III
Kegetiran membaca takdir
laksana kayu muda disayat
mengeluarkan getah merah.

Meski hatam lakon kan menimpa
tetap tergetar sendi keimanannya.
Semua sudah tergariskan,...
“Wahyaning wahyu
tumelung, tulus tan kena tinegor,”
ungkap Raden Ngabehi Ronggowarsito
di dalam Seratnya, Wirid Hidayat Jati.

Jauh, jauh sebelum para pujangga
mencium kabar berita nan
tak pernah habis dipunggah,
alam terbaluti kerahasiaan-Nya,
memantul-mantul antara air-udara.

Kerling bola-bola matanya jadi tanda
krenyutan hati membawakan nasibnya
terpahat di angkasa secetakan nyata,
tinta hitam mengalir-melimpah
keluar-masuk mewedarkan setia
pada ruang-waktu paling suwong
bak menabuh bedug tak mengena.

IV
Subroto menarik nafas panjang,
merambati gulungan rahmat-Nya
melewati jari-jemari perasaannya.

Makin tebal keyakinan
kian mantab hajadnya
menyatukan pribadi…
dibaluti bukit Jaran Dawuk
oleh ruh Resi ber-manah suci
demi lestari kasih sayangnya.

Tiada kata-kata goyah,
tiada keraguan menggetarkannya,
“Jadilah, maka Jadilah” legenda.

Kemudian Suminten tersentak dari tidurnya,
deladapan cari air kendi tak pada tempatnya,
haus paling ganjil, sedahaga perihal muskil.

Ia sesenggukan menyesali: “Kenapa dirinya dilahirkan?
Dan untuk apa beribadah?” Ketika semua hancur sia-sia?!

V
Sum... Sum... Anak panah
wus sumingkir songko busure,
sego wus dadi bubur jarene.

Suminten gusar atas pilihan keliru
Guno Seco Lurah Siman bapaknya,
mulai sadari perasaan malu memberat,
wajahnya mendung menggelantung
walau sudah ikhlaskan kehendak-Nya.

Kerelaan Subroto bagai tali-temali lencurangan  
diputar-putar gayuhan merindu berpuluh tahun,
meluncur sejauh daya kangen merambati tubuh.

Kini, Raden Mas Subroto menjelma awan, atau
abu kayungyung tersebar di setiap jalan dilalui,
Subroto mewujud kekisah tiada lekang jaman
pada desa-desa di mana Suminten melangkah.

VI
Suminten
yang dulunya lemah lembut
sekarang binal tak ketulungan,
orang tuanya saling menyalahkan,
ia jadi tak krasan menyimpan rasa.

Dahulu berpakaian sederhana
kini separas wanita penggoda,
lelirikan matanya seelang lapar
kepak sayap mendekati bahaya.

Api pernah dinyalakan Subroto
berkobar-kobar di dadanya,
bertahun-tahun tiada nyaman
meski berkali-kali dekati diri
kepada Sang Yang Kuasa;
seakan ditampik doa-doanya.

Bajunya disobek-sobek sendiri,
jiwanya berkelana cari pegangan,
orang tuanya tak mengenali lagi
gelagat yang tengah terjadi,
seluruh keluarganya pasrah
atas putusan secepat-cepatnya.

VII
Subroto menjelma gemawan menawan
Suminten tak tahu kemana arah tujuan,
seumpama berbakti sudah dilaksanakan
dirinya tinggal sisa-sisa penantian.

Lantas awan mengguntur
hujan deras ciutkan nyali,
kepada pilihan-pilihan keliru,
bukit Jaran Dawuk bergetar
sebagian rompal batuannya.

Kumandang lagu merdu tidak terdengar kembali
mimpi-mimpi tak tertangkap kluwung siang hari
dikarena hatinya terlepas mengikuti kekasihnya.

Ini lama kejadiannya
seberat penghambaan Subroto satu-satunya
dan Suminten kedanan kenyataan mengena,
walau dulunya setegar perempuan perkasa.

Buah mengkudu jatuh memburaikan bebijian
juluran daun sere sedap ingatkan masa silam,
semua lenyap sejanur-janur mulai menua
atau tidak lagi tumbuh di depan rumahnya.

9/10/2012 Ponorogo - 16/2/2013 Lamongan.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com